Tampilkan postingan dengan label kabau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabau. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

weird

Belakangan ini hal aneh terjadi. Saya banyak bermimpi ketika tidur. Tidur yang biasanya hanya pelepas lelah, kini menjadi salah satu ajang rekreasi, they have their own strory. Seperti nonton ftv, dengan kisah yang berawal ga jelas hingga ending yang terkadang 'maksa' karena harus cepat bangun sahur.

Mimpi itu bunga tidur. Ketika kita memimpikan seseorang di masa lalu, bisa jadi kita rindu, tapi tak berarti dia juga. Mimpi cuma penghias malam mu agar tak berlalu begitu saja. Kadang, atau malah sering, mimpi itu asal muasal rasa. Rasa yang produktif hingga konstruktif.

Ah, katanya mimpi itu dari setan, kecuali mimpi bertemu Rasulullah SAW, karena setan tidak bisa meniru beliau. Berarti, kalau saya mimpi bertemu Vidi Aldiano, apakah mungkin setan meniru Vidi untuk mengganggu tidur saya?

Hem ...
Mimpi kadang indah, sedih, menakutkan, hingga tak bisa dipahami. Tapi dia tetaplah mimpi, tak bisa mengganggu kehidupan nyatamu kecuali kau mengajaknya turut serta.

Selasa, 29 September 2015

Jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu

Suaramu berbaur bersama angin, berlalu dan bergemuruh begitu saja.
Tiada bekas yang ia tinggalkan, kecuali dinginnya saja.
Seandainya cintamu adalah hujan, ia telah membanjiri seluruh jalanan hatiku, sehingga aku terjebak tak dapat pergi dari ruang hati yang hanya tercipta untukmu.

Duhai pengukir kenangan, tidakkah kau berpikir bahwa prasasti kisah kita pasti akan abadi, dengan ukiran manis atau pahit bersamamu.
Tidakkah kita berpikir sebelum air jatuh perlahan hingga membuat cekung pada sebuah batu?

Aku tiada menyesal telah membersamaimu dalam garis waktu kehidupan yang tak seberapa panjang ini.
Indah dan buruk rupa dan adatmu jadi sedikit cerita dalam hidupku.
Tapi aku harus menenggelamkan atlantis kita.
Biar ia hanya menjadi kisah misteri penikmatnya.

Aku kini pergi.
Dengan perahu penyelamat, seseorang telah datang  menolongku terlepas dari jebakan banjir yang kau tinggalkan setelah redanya hujan.
Aku kini berada di tempat yang lebih tinggi , melihat tempat yang aku pernah terjebak sekian lama dalam genangan sembari menikmati hujan dari Sang Samudera.

*pengen nyanyiiii:
Namun kurasa cukup ku menunggu, semua rasa telah hilaang..
Sekarang aku tersadar, cinta yang ku tunggu tak kunjung datang, apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi~ yeaa~

Selasa, 17 Februari 2015

Rindu dari Si Jago Pemalu

Kalau saja aku penakut seperti ini, aku harap ada sedikit obat untuk sakitnya rasa rindu ini. Kamu memang benar, jatuh cinta memang perlu keberanian, setidaknya berani untuk memberikan kasih sayang kepada yang dicintai. Tapi rasa takut ini, jika diakumulasikan melebihi apapun, bahkan rindu ini. Merindukanmu memang menyakitkan, aku akan menahannya. Karena aku memang adalah si pengecut itu.

Aku bahagia saat kamu melukis siluet wanita dan lelaki itu, aku pikir dia mirip denganku. Setidaknya aku bisa bermain sedikit dengan imajinasi dan rinduku sehingga menghasilkan beberapa prosa yang membingkai perasaanku padamu. Meskipun aku tahu, tidak semua laki-laki semanis di film drama, nekat mengejar hati wanita tanpa mengetahui perasaannya. Mungkin kamu juga begitu.

Aku bahagia, ketika kamu menyadari ada hal kecil yang aku sembunyikan dari semua orang. Tidak banyak orang menyadari itu. Aku tidak tahu apa kau menyukainya atau membencinya, kamu juga tidak mengatakannya. Tapi aku bisa sedikit berbangga, kamu masih memperhatikanku.

Aku masih rindu, bahkan setelah menulis. Biasanya mereka mereda seiring waktu. Mungkin Tuhan mengizinkanku membuatmu istimewa di dalam hatiku dalam waktu yang agak lebih lama daripada biasanya. Mungkin saja ada rencanaNya yang tidak aku ketahui dibalik wabah rindu yang lebih lama ini.

Karena, rindu adalah cara membuat orang yang dirindu menjadi lebih istimewa.
-Pidi Baiq

Sabtu, 27 Desember 2014

Batas

Kabau, hari ini aku termenung di batas senja. Bukan menunggumu, tapi aku menata hatiku yang telah tak ku rawat sejak saat itu. Aku kini sengaja menunggu senja semakin redup untuk membuatku rindu, rindu pada banyak hal yang aku lewatkan setelah perjumpaan itu.
Hujan selalu turun seperti biasa, Kabau. Kabut pun masih sama. Hanya tempat dan waktu yang berbeda. Kenangan memang selalu ada, bahkan setelah kau melukis lukisan misterius yang hanya di mengerti olehmu saja. Aku tetap menyimpannya. Tapi apakah kamu melakukan hal yang sama? Itu juga menjadi misteri bagiku.
Kabau, setiap malam aku rindu memastikan kau menjagaku di depan kamarku. Ada debaran menyenangkan saat itu, sepertinya itu hormon dopamin, karena itu membuatku ketagihan. Tak jarang aku juga termenung di depan pintu kamarku saat fajar tiba. Dulu, selalu ku lihat dirimu terjaga saat mendengar pintu kamarku terbuka. Kau, tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Terimakasih, Kabau, itu sangat berarti.
Kabau, kamu tahu, ada rindu yang bisa kujaga, namun ada rindu yang menguap bersama kenangan. Ada yang selalu bersama namun ada juga yang layu dalam ingatan. Seperti apakah kita? Aku terlalu lelah berharap pada takdir. Luka luka yang ada belum sepenuhnya kering dan tidak cukupmembuatku tegar. Kamu belum tahu sedalam apa luka itu, Kabau, kita belum tahu. Aku hanya berjalan menyusuri waktu, dan melihat.