Kamis, 08 Desember 2016
Kesalahan dalam Jatuh Cinta
Jumat, 02 Oktober 2015
-untitled-
Tapi kalau jatuh cinta, setelah kita berkomitmen untuk menjaga cinta? Bagaimana kalau cinta itu hadir setelah ada cinta yang menyertai disisi? Ah, kita juga mengaku cinta pada Tuhan, tapi kita sendiri men-dua, tiga, empat-kan cinta kita pada Tuhan. Kenapa kita harus marah ketika cinta kita ‘terjatuh’ lagi pada cinta yang lain?
Manusia.
Perasaan memang kadang tidak selaras dengan keinginan. Padahal keinginan juga merupakan desire yang tidak terduga, seperti halnya perasaan. Yang menjadi masalah adalah kadang kita punya konsep ideal, tapi kenyataan tidak sesuai dengan konsep ideal kita. Kalau kita tidak memiliki konsep ideal tentang kehidupan, akankah kita hidup lebih bahagia? Belum tentu, karena kebahagiaan juga merupakan standar, yang kita sadari dan tidak kita sadari.
Ah, hidup memang menggemaskan.
Rabu, 15 April 2015
Sederhana itu bahagia
Hidup ini memang bukan hanya tentang satu perkara, tapi banyak perkara, tergantung seberapa banyak kita memilihnya. Tapi bukan berarti kesederhanaan tidak bisa dipertahankan dengan banyaknya perkara hidup yang kita pilih. Setiap perkara punya inti yang membuatnya sederhana, kerumitan hanya diciptakan oleh angan yang terlampau tinggi.
Kebahagiaan bukan perkara sederhana, kebahagiaan adalah segalanya. Kesedihan bukan pilihan, ia takdir yang sesekali menyapa kehidupan agar kita mengingat bahwa ada kesederhanaan yang membuat perkara-perkara kehidupan justru lebih membahagiakan. Rumit juga membanggakan, yang membanggakan tak jarang bermanfaat, dan yang bermanfaat pasti berkah, dan berkah menjadi membahagiakan.
Sederhana itu bahagia. Megah juga bahagia. Kebahagiaan bisa berada dimana saja. Aku tak mau memilih-milih kebahagiaan. Aku ingin selalu bahagia, dunia-akhirat. Aku menerima semua kebahagiaan itu.
Rabu, 04 Desember 2013
Sahabat Sejati SOS Hingga Homei Michael Bublle
Selama ini aku jarang bisa menjalin persahabatan yg dekat dengan seseorang atau beberapa orang.
Kenapa? Karena aku sibuk.
Ya, sejak waktu SD aku hampir selalu memiliki kesibukan dengan teman-teman yang klik denganku.
Misal saja les mata pelajaran, les sempoa, ekskul beladiri, klub renang, bimbel, ormawa, hingga pekerjaan.
Mungkin sejak dulu juga, aku jarang dikondisikan memiliki teman yang sangat dekat oleh keluarga. Jika aku minta izin bermain ke rumah A, B, atau C, jarang sekali ayah dan ibuku izinkan. Malah hampir selalu mengalihkan untuk pergi bersama mereka.
Jadilah aku family girl. Daddy girl mungkin lebih cocok, karena aku hampir selalu mengikuti perkataan ayah dan tidak bisa melawan ayah.
Sekarang akhirnya aku dihadapkan pada sebuah posisi. Kakak tertua. Adikku yang remaja dan masa ABG sudah mulai lebih ingin bersama temannya daripada dengan keluarga. Aku juga jadi memiliki kecenderungan untuk merasa berat hati jika adik-adikku pamit pergi bersama temannya.
Apa mungkin faktor pembiasaan perilaku? Atau genetik? Atau rasa cemburu karena adik-adikku tidak diperlakukan se-protektif aku?
Bisa jadi.
Protektif. Itulah kenapa, aku sejak duduk di bangku SMA ingin sedikit 'lepas' dari pengawasan orangtuaku dan tinggal dengan nenek dan kakek.
Dan sekarang sedang rindu masa-masa 'protektif' dulu.