Rabu, 27 Januari 2016

tidak benar benar tahu

Bang, we were never know
Bahkan arah angin pun berhembus mengikuti temperatur
Kita tidak pernah benar-benar tahu

Tapi ketidak-bersamaan denganmu seperti sebuah kepastian yang teramat jelas
Senyum yang tidak pernah ku lihat terhapus dari wajahnya dan wajahmu
Tidak pernah ada kesempatan bagiku untuk dapat sedikit saja berharap
Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu

Sedetik lalu, kulihat wajahnya tak menampakan senyuman itu
Kita tidak pernah benar-benar tahu kenapa
Padahal baru sedetik sebelumnya aku memulai langkah dengan tujuan baru
Aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu,
mengapa menyerah dan benar-benar pergi menjadi sesulit ini

Kita tidak pernah benar-benar tahu
Pada jutaan detik yang telah berlalu, teman adalah kata yang pantas bagi kita
Yang aku kira istimewa, ternyata biasa saja di hatimu
Tapi aku tidak pernah benar-benar tahu, ada tatapan macam apa yang menghantui setiapku lengah

Baru ribuan detik berlalu, dia telah kembali tersenyum
Ah, betapa bersih hatinya
Tapi aku tiba-tiba teringat, bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu
Bisa saja hatinya merah berdarah-darah dibalik senyum putihnya, kita tidak pernah benar-benar tahu

Tabir kepastian masa depan kita, adalah ketidakpastian
kita tidak pernah benar-benar tahu, bahwa hati hanya milik Penguasa semesta
Dia yang benar-benar tahu

_Tadi sore udah baca simplesite seseorang, jadi terinspirasi bikin ini :p

Jumat, 02 Oktober 2015

-untitled-

Ah, cinta. Perasaan memang seperti air, mudah mengalir pada tempat yang lebih rendah. Kenapa seseorang bisa jatuh cinta lagi? Ya, menyedihkan sekali kalau kita cuma bisa jatuh cinta seumur hidup hanya satu kali. Tidak bisa move on. Untunglah saya bukan sejenis alien dari skuel ‘I am Number Four’.

Tapi kalau jatuh cinta, setelah kita berkomitmen untuk menjaga cinta? Bagaimana kalau cinta itu hadir setelah ada cinta yang menyertai disisi? Ah, kita juga mengaku cinta pada Tuhan, tapi kita sendiri men-dua, tiga, empat-kan cinta kita pada Tuhan. Kenapa kita harus marah ketika cinta kita ‘terjatuh’ lagi pada cinta yang lain?

Manusia.

Perasaan memang kadang tidak selaras dengan keinginan. Padahal keinginan juga merupakan desire yang tidak terduga, seperti halnya perasaan. Yang menjadi masalah adalah kadang kita punya konsep ideal, tapi kenyataan tidak sesuai dengan konsep ideal kita. Kalau kita tidak memiliki konsep ideal tentang kehidupan, akankah kita hidup lebih bahagia? Belum tentu, karena kebahagiaan juga merupakan standar, yang kita sadari dan tidak kita sadari.

Ah, hidup memang menggemaskan.

Selasa, 29 September 2015

Jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu

Suaramu berbaur bersama angin, berlalu dan bergemuruh begitu saja.
Tiada bekas yang ia tinggalkan, kecuali dinginnya saja.
Seandainya cintamu adalah hujan, ia telah membanjiri seluruh jalanan hatiku, sehingga aku terjebak tak dapat pergi dari ruang hati yang hanya tercipta untukmu.

Duhai pengukir kenangan, tidakkah kau berpikir bahwa prasasti kisah kita pasti akan abadi, dengan ukiran manis atau pahit bersamamu.
Tidakkah kita berpikir sebelum air jatuh perlahan hingga membuat cekung pada sebuah batu?

Aku tiada menyesal telah membersamaimu dalam garis waktu kehidupan yang tak seberapa panjang ini.
Indah dan buruk rupa dan adatmu jadi sedikit cerita dalam hidupku.
Tapi aku harus menenggelamkan atlantis kita.
Biar ia hanya menjadi kisah misteri penikmatnya.

Aku kini pergi.
Dengan perahu penyelamat, seseorang telah datang  menolongku terlepas dari jebakan banjir yang kau tinggalkan setelah redanya hujan.
Aku kini berada di tempat yang lebih tinggi , melihat tempat yang aku pernah terjebak sekian lama dalam genangan sembari menikmati hujan dari Sang Samudera.

*pengen nyanyiiii:
Namun kurasa cukup ku menunggu, semua rasa telah hilaang..
Sekarang aku tersadar, cinta yang ku tunggu tak kunjung datang, apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi~ yeaa~