Selasa, 26 April 2016

Epilog without prolog and mainstory : heartbreaking firstlove

Lagi seneng nget sama non-space-word. Alay sih, tapi ingin banget curhat tentang tema dari judul ini.

Everybody say firstlove is a heartwarming story ever. Yes, it was. But i've made a mistake. I guess it'll never fine ever anymore. Bye.
Tapi, before say goodbye forever from my mind, i prefer to keep it on my blog.

Biasanya ingin cerita lewat cerpen atau puisi aja. Tapi ini terlalu basi mood dan chemistry nya jadi sori ya hehehe

Jadi dulu lah, jaman sd, ada temen sebangku yang menyenangkan. Jaman dulu sih saya udah mulai demen demen sama cowok, and my chairmate ini saya pikir the best choice to falling at the time. So when my friends asked me who was a boy that i liked, i surely answered, it was him.

Saya pikir, part ini is a heart warming stories. Soalnya nyaman banget berinteraksi dan bersama dia. Ada banyak cerita dan obrolan kita. Yang saya inget salah satunya dia jadi saksi saya jatuh ke comberan saat mau berangkat sekolah. Dia juga suka manggil saya petet atau didi petet, atau bilang aqua.

Abis lah masa sekolah dasar. Saya ganti gebetan ya, upgrade biar kekinian, tapi masih ngarep karena dia kata temen temen adalah salah seorang fabolulous student di smp-nya. Ketika saya sudah duduk di kelas 3, suatu siang di tempat bimbel saya, saat itu saya belum pernah ketemu dia lagi sejak lulus sd, dia dengan hangat tiba tiba menyapa saya dan menggenggam menyalami tangan saya.
Hei, kamu tau saya begitu canggung meresponnya. Saya malu. Malu karena saya ketemu kecengan waktu sd yang saya masih harapkan. Dia sepertinya marah karena saya bereaksi seperti itu. Mungkin dia jadi malu.
Sejak saat itu, we are just like stranger. Sampai sekarang. Sampai detik ini.

Saya sih gak masalah. Cuma kalau buka sosmed pas ada update doi, hem suka kepikiran rasa bersalah itu. Bukan masalah dedeman macam dulu lagi ya, karena udah banyak dedemenan lain yang mampir di hati dan otak setelah dia. Lebih dramatic dan baper. Lebih historical dan heroic. Lebih komedi dan thriller.

Mau to the point minta maaf, malu. Takut dia udah lupa. Lebih parah lagi kalo dia juga lupa sama saya. (Oalaaah..)

Udah cape sih naro unek unek ini di otak dan kenangan. Semoga dengan nulis ini, katarsis ya saya. Semoga kenangan dia tidak membebani saya tiap saya lihat sosmednya, merasa bersalah. Saya cuma ingin katarsis agar lebih tenang.

Tenang, first love, i don't throw you away to the rubish bin. I keep you as a story in my live, i keep remember you in this blog. Karena setiap cerita kehidupan itu berharga.

Semoga kamu tetap bahagia, saya jadi lebih bahagia (setelah edisi katarsis ini).

Rabu, 27 Januari 2016

tidak benar benar tahu

Bang, we were never know
Bahkan arah angin pun berhembus mengikuti temperatur
Kita tidak pernah benar-benar tahu

Tapi ketidak-bersamaan denganmu seperti sebuah kepastian yang teramat jelas
Senyum yang tidak pernah ku lihat terhapus dari wajahnya dan wajahmu
Tidak pernah ada kesempatan bagiku untuk dapat sedikit saja berharap
Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu

Sedetik lalu, kulihat wajahnya tak menampakan senyuman itu
Kita tidak pernah benar-benar tahu kenapa
Padahal baru sedetik sebelumnya aku memulai langkah dengan tujuan baru
Aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu,
mengapa menyerah dan benar-benar pergi menjadi sesulit ini

Kita tidak pernah benar-benar tahu
Pada jutaan detik yang telah berlalu, teman adalah kata yang pantas bagi kita
Yang aku kira istimewa, ternyata biasa saja di hatimu
Tapi aku tidak pernah benar-benar tahu, ada tatapan macam apa yang menghantui setiapku lengah

Baru ribuan detik berlalu, dia telah kembali tersenyum
Ah, betapa bersih hatinya
Tapi aku tiba-tiba teringat, bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu
Bisa saja hatinya merah berdarah-darah dibalik senyum putihnya, kita tidak pernah benar-benar tahu

Tabir kepastian masa depan kita, adalah ketidakpastian
kita tidak pernah benar-benar tahu, bahwa hati hanya milik Penguasa semesta
Dia yang benar-benar tahu

_Tadi sore udah baca simplesite seseorang, jadi terinspirasi bikin ini :p

Jumat, 02 Oktober 2015

-untitled-

Ah, cinta. Perasaan memang seperti air, mudah mengalir pada tempat yang lebih rendah. Kenapa seseorang bisa jatuh cinta lagi? Ya, menyedihkan sekali kalau kita cuma bisa jatuh cinta seumur hidup hanya satu kali. Tidak bisa move on. Untunglah saya bukan sejenis alien dari skuel ‘I am Number Four’.

Tapi kalau jatuh cinta, setelah kita berkomitmen untuk menjaga cinta? Bagaimana kalau cinta itu hadir setelah ada cinta yang menyertai disisi? Ah, kita juga mengaku cinta pada Tuhan, tapi kita sendiri men-dua, tiga, empat-kan cinta kita pada Tuhan. Kenapa kita harus marah ketika cinta kita ‘terjatuh’ lagi pada cinta yang lain?

Manusia.

Perasaan memang kadang tidak selaras dengan keinginan. Padahal keinginan juga merupakan desire yang tidak terduga, seperti halnya perasaan. Yang menjadi masalah adalah kadang kita punya konsep ideal, tapi kenyataan tidak sesuai dengan konsep ideal kita. Kalau kita tidak memiliki konsep ideal tentang kehidupan, akankah kita hidup lebih bahagia? Belum tentu, karena kebahagiaan juga merupakan standar, yang kita sadari dan tidak kita sadari.

Ah, hidup memang menggemaskan.